Slayer di Singapura (Mengenang Jeff Hanneman)

Slayer saat konser di Singapura, 2006. (Sumber: LAMC Productions) Dalam rangka mengenang gitaris legendaris sekaligus salah satu tokoh p...


Slayer saat konser di Singapura, 2006. (Sumber: LAMC Productions)
Dalam rangka mengenang gitaris legendaris sekaligus salah satu tokoh penting thrash metal dunia, Jeff Hanneman (49), yang tutup usia kemarin pagi (2/5) waktu California Selatan, Rolling Stone tampilkan kembali dahsyatnya suasana konser Slayer pertama dan terakhir kalinya di Asia Tenggara bersama original line-up yang terjadi enam tahun lalu di Singapura. RIP Jeff Hanneman.

----------

Horor adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kedatangan Slayer pada momen “Friday the 13th”. Band "penyembah" setan ini konon ditolak masuk Indonesia karena berada dalam daftar cegah tangkal Badan Intelijen Nasional. Persetan! Indonesia bisa pergi ke neraka karena melarang Slayer datang.

Band yang menjadi mimpi buruk bagi metalhead Asia Tenggara selama tujuh belas fucking tahun ini akhirnya berkunjung ke Singapura. Dengan bangga pula saya laporkan bahwa kedatangan Slayer really worth the wait. Sebuah mimpi buruk akhirnya menjadi kenyataan. And I was there.

Tiba di depan Max Pavillion, Singapore Expo, yang agak mirip PRJ dan letaknya di pinggir kota saya mendapati ribuan metalhead sedang berteriak keblinger layaknya orang kerasukan iblis. “Slayer! Slayer! Slayer! Slayer!” Jangan salah, orang-orang ini bukan fans. Slayer tidak punya fans, mereka hanya punya pemuja, pemberhala yang berbaris dengan tertib [Jangan pernah lupa ini adalah Singapura]. Uniknya, para pemuja ini multi-nasional. Metalhead Thailand, India, Singapura, Malaysia, Cina, Indonesia hingga Amerika untuk malam itu rela melepas agama demi menyembah raja-raja setan dalam formasi klasik terbaiknya: Kerry King [gitar], Tom Araya [vocal/bass], Jeff Hanneman [gitar] dan Dave Lombardo [drums].

Dengan tiket termahal saya dapat beribadah dengan khusyuk tepat di garis depan panggung bersama tiga puluh lima kawan seiman dari Indonesia. Sebelumnya saya sempat membayangkan stage plot Slayer bakal dihiasi tumpukan speaker cabinet Marshall yang membentuk salib terbalik seperti tur Unholy Alliance mereka di Eropa, namun saya salah. Deretan speaker cabinet sebanyak 16 buah itu tetap ada tapi sayangnya tidak memiliki arti khusus. Saya kira Singapura liberal tapi ternyata tidak juga. Latar belakang panggung juga minus backdrop dan agaknya memang sengaja dibiarkan hitam polos. Tak bisa dibayangkan bagaimana killer-nya suasana backstage Slayer di belakang sana.

Ketika teriakan intens para pemuja makin membahana, tiba-tiba seluruh lampu venue dipadamkan. Waktu lokal menunjukan pukul 20:30. Intro klasik nan mencekam tersembur dari gitar Kerry King. Kepulan asap gunsmoke bergumul dengan sorot lampu biru memukau. Iblis ternyata datang dari sebelah selatan surga: “South of Heaven.” Kontan sekitar 3000 massa hitam, termasuk saya, mulai meledak dalam pusaran mosh pit paling berbahaya di Asia Tenggara. “On and on/South of heaven/On and on/South of Heaven.” Sebuah nomor pembuka yang tak terduga sebelumnya, seakan menerbangkan kita kembali ke tahun 1988. Get thrashed!

“Silent Scream” dari album yang sama dengan lagu pembuka diberondong tak lama kemudian. Teror intensif berlanjut dengan nomor cepat-rapat, “War Ensemble” yang merupakan track pertama di Seasons in the Abyss. Saya yang baru menyadari pengaruh buruk merokok pada stamina perlahan menyingkir dan mengenakan kembali kacamata.

Tom Araya terlihat makin mirip Charles Manson dengan brewok abu-abunya. Kerry King yang berbadan gempal dengan janggut panjangnya tampil kalem-sangar memperkosa “kampaknya” di samping kanan panggung. Si pirang gondrong Jeff Hanneman dengan jersey sport “53” favoritnya terlihat yang paling kalem dalam beraksi. Sementara di belakang double bass drum set, samar-samar terlihat the greatest stickman Dave Lombardo mengenakan topi terbalik membantai kulit drum hampir tanpa cela. Slayer memang boleh terlihat menua tapi musik mereka tak akan pernah pelan.

Menjelang part terakhir Dave Lombardo di “War Ensemble” tiba-tiba saja shit happens. Listrik padam! What the fuck! Mati listrik di konser jelas tak pernah terlintas sedikit pun di pikiran saya, apalagi ini konser the almighty Slayer. Sekitar dua menit panggung sunyi-senyap-gelap. Slayer pun menyingkir ke belakang panggung. Penonton mulai kebingungan. Sabotase?

“Agaknya musik kami terlalu banyak menyedot energi hingga menyebabkan listrik padam,” canda Araya beberapa saat kemudian.

Ketika arus listrik kembali normal Slayer tanpa kompromi menghajar penonton dengan nomor-nomor “At Dawn They Sleep,” “God Send Death,” “Die By the Sword,” “Spirit in Black” dan “Hallowed Point.”

Para penonton banyak yang meminta lagu-lagu seperti “The Antichrist,” “Disciple,” “Cult” dan “Jihad,” dua terakhir ini dari rilisan terbaru bertitel Christ Illusion. Araya dengan kalem menjelaskan bahwa Slayer tidak boleh memainkan nomor-nomor sensitif selama konser di Singapura ini.

Memang menyebalkan, tapi so far, so good. Set list Slayer malam ini banyak di dominasi lagu dari album-album klasik…… dan itu keren. Menyusul selanjutnya nomor eksplosif “Mandatory Suicide” yang merupakan soundtrack ke medan peperangan.

Yang menjadi standout malam itu adalah lighting panggung yang sangat mengagumkan. Ketika lagu “Seasons in the Abyss” berkumandang seketika cahaya panggung berselimut merah menyala selaras dengan tema neraka pada liriknya. Koor penonton di lagu ini makin keras bergema, sempat terlihat Kerry King tersenyum sinis melihat spartannya semangat penonton.

Saat “Chemical Warfare” nuansa panggung berubah biru dengan kilatan blitz menyambar. Album Christ Illusion yang ditarik peredarannya di India malam itu hanya diwakili single terbaru, “Eyes of the Insane.” Tak terlalu bermasalah bagi saya karena malam ini menyembah masa lalu lebih relevan pastinya.

“Kali ini kami akan menyanyikan sebuah lagu cinta romantis,” canda Araya yang segera disusul dengan intro gitar horor “Dead Skin Mask.” Penonton makin lepas kendali dan agresif ber-slam dance, headbang merespon lagu yang mungkin paling “pop” dalam katalog Slayer tersebut. Dari seluruh lagu yang paling ditunggu penonton, sudah pasti “Raining Blood” adalah nomor yang paling sukses melumat semua orang yang berada di mosh pit. Brutal, ganas, mengerikan, seakan besok hari kiamat!

“Postmortem” yang merupakan salah satu favorit saya ikut pula digelontorkan, disambung dengan favorit semua orang, “Angel of Death.” Sayang, saya tak mendengar jeritan mengerikan Araya di awal lagu ini karena ia langsung menyemburkan, “Auschwitz/The meaning of pain/The why that I want you to die.”

Yang mengejutkan, Dave Lombardo memberikan ekstra kick cukup panjang pada penutupan lagu ini. Tanpa encore, perjamuan Slayer berdurasi 90 menit dengan 16 lagu bertegangan tinggi pun berakhir. Belakangan saya beruntung mendapatkan set list milik Jeff Hanneman dan mendapati dua lagu dicoret dalam daftar: “Captor of Sin” dan “Bloodline.” Ddamm!

Sumber: rollingstone.co.id

Related

Rock 7175337555746012254

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Yahoo

Populer

Comments

NOW PLAYING THE RADIO

Get the Flash Player to hear this stream.
Tune In:

Klik icon di bawah ini buat download Aplikasi Streaming RadioMGL langsung dari gadget kamu.

Find Us On Facebook

Twitter

item